Sabtu, 20 Oktober 2012

Tak Pantang di Negeri Perang


Kuliah memang menyenangkan karena pastinya akan bikin kita jadi orang yang kritis dan katanya juga jadi agen perubahan lho. Apalagi kalo kampusnya okey, nyaman, banyak temen yang bisa diajak sharing and ada di luar negeri lagi. Wuih pasti bakalan seru dan heboh dech pengalamannya. Yah itulah yang selalu jadi impian hampir semua pelajar di indonesia. Sobat fata pengen ke luar negeri juga donk?
Ketika kita mengharapkan sesuatu yang menyenangkan tentu pula kita harus siap ketika harus menelan pil pahit sobat. Lho kok? Yah, biasanya kuliah di luar negeri kan identik dengan kenyamanan tapi lain halnya jika keadaan telah berubah dan berbalik arah seperti yang dialami oleh salah satu sahabat kita yang sedang menimba ilmu di Syria. Semua tahu bahwa keadaan negara tersebut sedang memanas. Oleh karena itulah kita akan menyimak hasil wawancara penulis dengan nara sumber yang sedang kuliah disana.
Kondisi Terkini
Hampir semua media massa menyoroti Suriah saat ini. Mulai dari media cetak sampai media
elektronik sekalipun. Sobat bisa baca berita tiap hari yang selalu update mengenai kondisi terkini di Suriah.
Juli lalu setelah pejabat tertinggi Asad tewas akibat bom di gedung keamanan saat mereka mengadakan perkumpulan khusus, siangnya Damaskus (pusat kotanya) tergoncangkan. Karena ada penjagaan yang bener-benar ketat, banyak jalur menuju kota yang ditutup. Kemarin sempat ada kerusuhan antara rezim dengan oposisi di pusat kota yang berlanjut sampai malam. Waktu malamnya lampu mati dua kali, di tengah mati lampu banyak rakyat yg menyerukan suara takbir mereka dari kejauhan. Entah apa yang terjadi ketika itu.
Kemarin di Dilib salah satu provinsi suriah, tentara revolusioner berhasil menguasai bandara militer milik pemerintah yang mana sebelumnya bandara itu disunakkan sebagai pangkalan pesawat untuk membantai rakyat.
Penyebab Konflik
Siapa yang tidak kenal presiden Syria. Dia adalah penganut syi'ah sehingga jangan heran kalau syi’ah berkembang pesat. Ada suatu kota yang disitu menimbulkan kecemburuan orang-orang sunni. Orang-orang syiah hidup dengan bebas dan hidupnya terjamin, bahkan anak kecil pun dipersenjatai so banyak penganut sunni yang diperlakukan tidak adil.
Selain sebab itu, rakyat juga ingin pemerintah dzalim ini tumbang karena tidak bisa mengayomi rakyatnya. Belum lagi ribuan nara pidana yang sekian tahun tidak jelas statusnya sehingga hal ini juga memicu revolusi.

Suasana Kampus
Kalau dibilang nyaman, siapa sih yang nyaman belajar di tengah konflik? Tentu saja tidak ada yang mau. Pada awalnya kerusuhan hanya terjadi di pinggiran kota tepatnya di jalur-jalur perbatasan. Namun pernah satu kali konflik nyampai ke kota. Ketika itu kami pun di sini khawatir karena daerah yang kami tempati juga semakin gencar apalagi daerah yang ditempati kakak kelas (senior kami). Kemarin dari pagi sampai zuhur suara ledakan dan tembakan tak henti. Saat itu juga ada helikopter jatuh di pinggiran Damaskus. Sekarang alhamdulillah sudah agak mereda untuk dalam kota tapi di pinggiran perlawanan sengit masih memanas.
Di universitas sendiri pada awalnya banyak yang pro (mendukung) pemerintah namun sekarang banyak oknum yang berlaku sebaliknya alias kontra. Meski keadaan memanas seperti saat ini namun aktifitas belajar di kampus kami tetap jalan. Rektor dan para masyayekh siap menjamin keamanan mahasiswa indonesia dalam arti mereka telah menyiapkan tempat yang aman bagi kami jika konflik sampai ke kota.
Pihak universitas memandang konflik ini semata-mata politik jadi kalau ada perang mereka menganggap itu antara tentara revolusioner dengan tentara pro pemerintah. Sebagai lembaga pendidikan tentunya universitas beranggapan bahwa yang lebih utama adalah pendidikan mengingat mereka diberi amanah untuk mendidik mahasiswa yang bukan hanya dari dalam negeri tapi juga luar negeri. Tanggung jawab akan keamanan mahasiswa pun juga mereka emban.
Bom Dan Peluru Itu Biasa
Bagi mahasiswa luar seperti aku ini, mendengar peluru dan bom sangatlah jarang dan mungkin aku belum pernah menyaksikan secara langsung di tanah air. Tapi di sini hal itu lama kelamaan sudah hal biasa. Dentaman bom dan suara peluru yang keluar dari senjata api hampir kami dengarkan setiap hari. Dua hari ini saja agak tenang cuma sebelumnya dari pagi sampai sore nggak berhenti suara itu.
Mana ada di tanah air di tengah semangat belajar yang membara ada suara-suara yang memekikkan gendang telinga. Kalau pun ada yang belajar di akademi militer, itupun di lapangan khusus latihan. Itu semua tidak menyurutkan semangatku untuk belajar dan terus belajar. Aku selalu berdoa mudah-mudahan allah selalu menolong para mujahid yang berjuang di jalan Allah memerangi kedzoliman.
Perasaan temen-temen
Pada awalnya jumlah kami, mahasiswa dari indonesia sekitar 135 namun saat ini tinggal sekitar 75. banyak diantaranya pulang ke tanah air karena khawatir dengan keadaan di sini yang makin lama makin panas. Ada juga yang di evakuasi ke daerah yang lebih aman. Tapi temen-temen yang masih eksis di sini belum mau pulang karena kuliahnya belum kelar. Khawatirnya kalo misalnya ikut evakuasi nanti nggak ada yang jamin bisa masuk sini lagi untuk melanjutkan kuliahnya, makanya saat ini kami memilih tetap di sini, apalagi seperti yang telah kami ungkapkan sebelumnya bahwa pihak kampus dan KBRI menjamin keselamatan mahasiswa khususnya dari tanah air.
Sobat muda fata. Itu tadi beberapa penuturan dari temen kita yang sekarang masih eksis disana. Banyak ibrah yang bisa kita ambil. Sahabat kita tadi harus belajar di tengah suara peluru dan bom saj masih semangat dan pantang menyerah. Pertanyaan kita, bagaimana dengan kita yang ada di tanah air? Negara kita dalam kondisi aman dan suasana belajar pun di lingkungan kita mendukung tapi kok justru prestasi dan semangat belajarnya di bawah mereka. Malu dong, harusnya kita semangat untuk terus menuntut ilmu. Bukannya kita diperintahkan untuk menuntut ilmu dari semenjak kita lahir hingga ajal menjemput kita? So tidak ada kata terlambat, yuk segera berbenah diri untuk meraih masa depan menjadi orang yang taqwa dan cendekia. Amiin….Sa_

Disunting dari Majalah elfata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar