Sabtu, 20 Oktober 2012

Saat Ke'sabar'an Diuji

Bismillaah..

Matahari pagi ini sangat bersahabat, ia tak malu-malu muncul tapi juga tak memancarkan sinarnya begitu terik. Sebuah nikmat yang tak patut didustakan! Udara yang cukup dingin juga menawan hatiku untuk tetap berada pada tingkat semangat yang tertinggi.  Subhanallaah Wal Hamdulillaah atas nikmat yang Kau beri diawal hari ini ya Rabb, sunggug tak ada yang pantas ku nafikkan segala yang kau beri untuk hidupku sejak aku berada dalam rahim hingga hembus nafas terakhirku kelak.

Pagi ini pula, ku memulai segala hal yang biasa kulakukan setiap pagi saat aku dirumah. Mulai dari Bersih-bersih, membantu memandikan adik yang paling kecil hingga hal-hal sepele yang dirasa butuh tenagaku untuk membantu. Singkatnya hari-hari seperti ini adalah hari yang dipersiapkan untuk membantu orang rumah dan menerima beberapa "omelan" dari orangtuaku.

Apaa, Omelan? Gadis sebesar ku masih suka diomelin?

Hahaha, tak perlu heran! Mungkin mengomel adalah hobi orangtuaku, dan mungkin karena mengomel mereka dapat menyalurkan hasrat menasihati anak-anak mereka. Yaa, keep Posthink ajalah.!

Tapi ketika pekerjaan rumah telah kuselesaikan, tugas-tugas telah rapih, ternyata masih saja ada hal yang tidak berkenan dimata ibu maupun ayahku. sehingga tak jarang, akulah yang terkena imbasnya. Aku yang lebih sering mendapat omelan. Meskipun bukan aku satu-satunya anak mereka tapi sepertinya mereka lebih menyukai "menasihati" diriki daripada menasihari anak-anak yang lain.

Dan dahulu, saat aku masih jauh dari ilmu birrul walidayn, aku suka sekali membantah naasihat-nasihat mereka. Itu seperti tameng diri, ibaratnya aku menyiapkan amunisi balik saat ada serangan yang memborbardir diriku.

Namun kini berbeda, keadaannya berbeda. Aku sudah mengerti ilmunya, apalagi kini aku sudah berjilbab dan menutup sebagian wajahku. Sungguh rasanya ada yang ganjil bila aku membantah mereka. Tapi aku tak memungkiri, ada tekanan yang cukup kuat dalam hatiku untuk melawan ketika mendengar "nasihat" dari ibu. Sekuat tenaga pula aku menahannya, sesak dan sakit rasanya, sungguh. aku tak memungkiri, berat rasanya menahan bisikan syaithon. Bahkan kepala ini seketika menjadi sakit, tapi aku harus tetap menahan dan diam. Meskipun aku berada dalam posisi yang benar, apalah daya ku melayan Ibu. Sekali ibu mengatakan aku salah, ya sampai seterusnya ibi akan tetap menganggapku salah, tak berbeda pula dengan ayahku, mereka sama.

Aku menyadari bahwa sesungguhnya ini adalah ujianku, seberapa jauh aku bisa bertahan mempertahankan emosiku. Ku ingat haditd yang kupelajari saat di taman kanak-kanak dahulu "janganlah kamu suka marah maka bagimu syurga". Aaah Indah, aku menghibur diri dan secercah harapan baru mengelilingi hatiku "kamu bisa Put, jangan marah, nanti kamu dapat surga". Aku bersemangat, meskipun rasa nyeri dihati dan di kepala (akibat menahan amarah) masih terasa. tapi aku yakin aku harus belajar jadi lebih baik lagi agar orangtuaku tak memarahiku lagi. Dan saat itu pula, mataku berkaca-kaca dan airmataku mengalir secara alami sebagai efek menahan amarah dan nyeri dari hati.

Dan sa'at kesabaran ini kembali teruji, aku kan mengingat kembali hadits yang kupelajari dahulu, sebagai pelipur lara di hati ni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar