Sabtu, 20 Oktober 2012

Tak Pantang di Negeri Perang


Kuliah memang menyenangkan karena pastinya akan bikin kita jadi orang yang kritis dan katanya juga jadi agen perubahan lho. Apalagi kalo kampusnya okey, nyaman, banyak temen yang bisa diajak sharing and ada di luar negeri lagi. Wuih pasti bakalan seru dan heboh dech pengalamannya. Yah itulah yang selalu jadi impian hampir semua pelajar di indonesia. Sobat fata pengen ke luar negeri juga donk?
Ketika kita mengharapkan sesuatu yang menyenangkan tentu pula kita harus siap ketika harus menelan pil pahit sobat. Lho kok? Yah, biasanya kuliah di luar negeri kan identik dengan kenyamanan tapi lain halnya jika keadaan telah berubah dan berbalik arah seperti yang dialami oleh salah satu sahabat kita yang sedang menimba ilmu di Syria. Semua tahu bahwa keadaan negara tersebut sedang memanas. Oleh karena itulah kita akan menyimak hasil wawancara penulis dengan nara sumber yang sedang kuliah disana.
Kondisi Terkini
Hampir semua media massa menyoroti Suriah saat ini. Mulai dari media cetak sampai media
elektronik sekalipun. Sobat bisa baca berita tiap hari yang selalu update mengenai kondisi terkini di Suriah.
Juli lalu setelah pejabat tertinggi Asad tewas akibat bom di gedung keamanan saat mereka mengadakan perkumpulan khusus, siangnya Damaskus (pusat kotanya) tergoncangkan. Karena ada penjagaan yang bener-benar ketat, banyak jalur menuju kota yang ditutup. Kemarin sempat ada kerusuhan antara rezim dengan oposisi di pusat kota yang berlanjut sampai malam. Waktu malamnya lampu mati dua kali, di tengah mati lampu banyak rakyat yg menyerukan suara takbir mereka dari kejauhan. Entah apa yang terjadi ketika itu.
Kemarin di Dilib salah satu provinsi suriah, tentara revolusioner berhasil menguasai bandara militer milik pemerintah yang mana sebelumnya bandara itu disunakkan sebagai pangkalan pesawat untuk membantai rakyat.
Penyebab Konflik
Siapa yang tidak kenal presiden Syria. Dia adalah penganut syi'ah sehingga jangan heran kalau syi’ah berkembang pesat. Ada suatu kota yang disitu menimbulkan kecemburuan orang-orang sunni. Orang-orang syiah hidup dengan bebas dan hidupnya terjamin, bahkan anak kecil pun dipersenjatai so banyak penganut sunni yang diperlakukan tidak adil.
Selain sebab itu, rakyat juga ingin pemerintah dzalim ini tumbang karena tidak bisa mengayomi rakyatnya. Belum lagi ribuan nara pidana yang sekian tahun tidak jelas statusnya sehingga hal ini juga memicu revolusi.

Suasana Kampus
Kalau dibilang nyaman, siapa sih yang nyaman belajar di tengah konflik? Tentu saja tidak ada yang mau. Pada awalnya kerusuhan hanya terjadi di pinggiran kota tepatnya di jalur-jalur perbatasan. Namun pernah satu kali konflik nyampai ke kota. Ketika itu kami pun di sini khawatir karena daerah yang kami tempati juga semakin gencar apalagi daerah yang ditempati kakak kelas (senior kami). Kemarin dari pagi sampai zuhur suara ledakan dan tembakan tak henti. Saat itu juga ada helikopter jatuh di pinggiran Damaskus. Sekarang alhamdulillah sudah agak mereda untuk dalam kota tapi di pinggiran perlawanan sengit masih memanas.
Di universitas sendiri pada awalnya banyak yang pro (mendukung) pemerintah namun sekarang banyak oknum yang berlaku sebaliknya alias kontra. Meski keadaan memanas seperti saat ini namun aktifitas belajar di kampus kami tetap jalan. Rektor dan para masyayekh siap menjamin keamanan mahasiswa indonesia dalam arti mereka telah menyiapkan tempat yang aman bagi kami jika konflik sampai ke kota.
Pihak universitas memandang konflik ini semata-mata politik jadi kalau ada perang mereka menganggap itu antara tentara revolusioner dengan tentara pro pemerintah. Sebagai lembaga pendidikan tentunya universitas beranggapan bahwa yang lebih utama adalah pendidikan mengingat mereka diberi amanah untuk mendidik mahasiswa yang bukan hanya dari dalam negeri tapi juga luar negeri. Tanggung jawab akan keamanan mahasiswa pun juga mereka emban.
Bom Dan Peluru Itu Biasa
Bagi mahasiswa luar seperti aku ini, mendengar peluru dan bom sangatlah jarang dan mungkin aku belum pernah menyaksikan secara langsung di tanah air. Tapi di sini hal itu lama kelamaan sudah hal biasa. Dentaman bom dan suara peluru yang keluar dari senjata api hampir kami dengarkan setiap hari. Dua hari ini saja agak tenang cuma sebelumnya dari pagi sampai sore nggak berhenti suara itu.
Mana ada di tanah air di tengah semangat belajar yang membara ada suara-suara yang memekikkan gendang telinga. Kalau pun ada yang belajar di akademi militer, itupun di lapangan khusus latihan. Itu semua tidak menyurutkan semangatku untuk belajar dan terus belajar. Aku selalu berdoa mudah-mudahan allah selalu menolong para mujahid yang berjuang di jalan Allah memerangi kedzoliman.
Perasaan temen-temen
Pada awalnya jumlah kami, mahasiswa dari indonesia sekitar 135 namun saat ini tinggal sekitar 75. banyak diantaranya pulang ke tanah air karena khawatir dengan keadaan di sini yang makin lama makin panas. Ada juga yang di evakuasi ke daerah yang lebih aman. Tapi temen-temen yang masih eksis di sini belum mau pulang karena kuliahnya belum kelar. Khawatirnya kalo misalnya ikut evakuasi nanti nggak ada yang jamin bisa masuk sini lagi untuk melanjutkan kuliahnya, makanya saat ini kami memilih tetap di sini, apalagi seperti yang telah kami ungkapkan sebelumnya bahwa pihak kampus dan KBRI menjamin keselamatan mahasiswa khususnya dari tanah air.
Sobat muda fata. Itu tadi beberapa penuturan dari temen kita yang sekarang masih eksis disana. Banyak ibrah yang bisa kita ambil. Sahabat kita tadi harus belajar di tengah suara peluru dan bom saj masih semangat dan pantang menyerah. Pertanyaan kita, bagaimana dengan kita yang ada di tanah air? Negara kita dalam kondisi aman dan suasana belajar pun di lingkungan kita mendukung tapi kok justru prestasi dan semangat belajarnya di bawah mereka. Malu dong, harusnya kita semangat untuk terus menuntut ilmu. Bukannya kita diperintahkan untuk menuntut ilmu dari semenjak kita lahir hingga ajal menjemput kita? So tidak ada kata terlambat, yuk segera berbenah diri untuk meraih masa depan menjadi orang yang taqwa dan cendekia. Amiin….Sa_

Disunting dari Majalah elfata

MA'RIFATULLAAH


Ma’rifatullâh,
Satu-satunya Jalan
Menjadi Hamba Allâh


 
Ma’rifatullâh, yang secara bahasa berarti mengenal Allâh Ta'âla, termasuk istilah yang sudah familier di tengah kaum Muslimin. Karena semua yang beriman sepakat meyakini bahwa mengenal Allâh Ta'âla dan mencintai-Nya merupakan kewajiban dan tuntutan yang paling utama dalam Islam. Bahkan para Ulama Ahlus Sunnah selalu mengidentikkan istilah ma’rifatullâh dengan kesempurnaan iman dan takwa kepada Allâh Ta'âla.
Allâh Ta'ala berfirman:
QS. Fâthir/35:28
Sesungguhnya yang takut kepada Allâh diantara hamba-hamba-Nya, 
hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allâh Ta'âla)” 
(QS. Fâthir/35:28)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:
“Semakin bertambah pengenalan seorang hamba tentang Allâh, maka semakin bertambah pula rasa takut dan pengagungan hamba tersebut kepada-Nya…, yang kemudian pengenalannya ini akan mewariskan rasa malu, pengagungan, pemuliaaan, serta merasa selalu diawasi oleh Allâh Ta'âla, dan menumbuhkan kecintaan, tawakal, selalu kembali, serta ridha dan tunduk kepada perintah-Nya.”
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullâh berkata :
“Semakin banyak pengenalan seseorang tentang Allâh, maka rasa takutnya kepada Allâh pun semakin besar, yang kemudian rasa takut ini menjadikan dirinya (selalu) menjauh dari perbuatan-perbuatan maksiat dan (senantiasa) mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Dzat yang ditakutinya (yaitu Allâh Ta'âla ).”
Ahlus sunnah wal jama’ah meyakini dan menetapkan bahwa ma’rifatullâh yang benar adalah mengenal Allâh Ta'âla dengan mengenal nama-nama-Nya yang maha indah, sifat-sifat-Nya yang maha sempurna dan perbuatan-perbuatan-Nya yang maha terpuji, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat-ayat al-Qur’ân dan hadits-hadits yang shahih dari Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam, tanpa tahrîf (menyelewengkan maknanya yang benar), ta’thîl (menolak/mengingkarinya), takyîf (membagaimanakannya) dan at-tamtsîl (menyerupakannya dengan makhluk).
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullâh berkata :
“Kita tidak boleh menyifati Allâh Ta'âla kecuali dengan sifat yang Dia tetapkan untuk diri-Nya (dalam al-Qur’ân) dan yang ditetapkan oleh rasul-Nya (dalam hadits-hadits yang shahih), kita tidak boleh melampaui al-Qur’ân dan hadits.”
Imam Ibnul Jauzi rahimahullâh berkata, “Sesungguhnya ma’rifatullâh (yang benar) adalah mengenal zat-Nya, mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta mengenal perbuatan-perbuatan-Nya.”
Jadi dengan memahami nama-nama dan sifat-sifat Allâh Ta'âla dengan benar, seseorang bisa mengenal Allâh (ma’rifatullâh) dengan benar. Ma’rifatullâh yang benar akan menimbulkan rasa cinta (al-mahabbah) dan rasa takut yang merupakan landasan ibadah kepada Allâh Ta'âla.
Mahabbatullah (rasa cinta kepada Allâh Ta'âla ) dan rasa takut kepada Allâh Ta'âla tidak mungkin bisa diraih tanpa mengenal Allâh Ta'âla. Maka orang yang tidak memiliki ma’rifatullah (mengenal Allâh) yang benar, tidak mungkin bisa beribadah dengan benar kepada-Nya, padahal beribadah kepada Allâh Ta'âla adalah tugas utama manusia.
Allâh Ta'âla berfirman:
QS. adz-Dzâriyât/51:56
Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia 
kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku
(QS. adz-Dzâriyât/51:56)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata :
“Barangsiapa yang mengenal Allâh Ta'âla (yaitu) dengan mengenal nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya maka dia pasti akan mencintai-Nya.”
Mengenal Allâh Ta'âla adalah dengan merenungkan dan mempelajari ayat syar’iyah dengan nash-nash yang shahih, juga dengan memperhatikan dan merenungi keberadaan dan keadaan alam semesta beserta semua makhluk Allâh Ta'âla yang ada di dalamnya, termasuk merenungi apa-apa yang ada pada diri kita sendiri. Semua itu merupakan tanda-tanda kemahakuasaan-Nya dan bukti kesempurnaan ciptaan-Nya.
Allâh Ta'âla berfirman:
QS. adz-Dzâriyât/51:20-21
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allâh Ta'âla) 
bagi orang-orang yang yakin, 
dan (juga) pada dirimu sendiri, 
maka apakah kamu tidak memperhatikan?” 
(QS. adz-Dzâriyât/51:20-21)
Itulah ma’rifatullâh dan urgensinya yang terkait langsung dengan tugas utama manusia yaitu beribadah kepada Allâh Ta'âla. Cara (mengenal Allâh) yang benar pun sudah begitu gamblang dijelaskan oleh para Ulama’, namun ada juga cara-cara keliru yang dilakukan oleh sebagian orang dalam rangka mengenal Allâh Ta'âla. Akibatnya, kesesatan dan penderitaan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
Kini tinggal pribadi masing-masing untuk memilih jalan. Jika benar yang dipilih, dengan ijin Allâh Ta'âla, kebahagiaan dunia dan akhirat akan menjadi haknya. Semoga Allâh Ta'âla senantiasa membimbing kita untuk tetap berada pada jalan haq yang berujung pada kebahagiaan.
DI KUTIP DARI (Tajuk: Majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVI)

Kamis, 18 Oktober 2012

Tersembunyi Sebelum Jumpa

Bismillaah.

Hari itu kuliahku begitu padat, sejak pagi hingga menjelang surya terbenam dalam selimut malam. Begitu lelah  menjalani aktivitas yang cenderung monoton. Kuliah, tugas, ngajar, kuliah, tugas, ngajar, kuliah, tugas, sedikit membantu teman-teman panitia IJT (islamic journalistic training) part 6 2012. Tidak banyak yang ku kerjakan dalam sisa usia ini, tapi yang harus banyak ku lakukan adalah bersyukur dan selalu mengingat akan kebesaran dan keesaan Allah dengan segala nikmat yang tak mampu aku hitungf satu persatu.

IJT? Apa itu?

Mulanya aku pun tak tahu apa itu IJT, tapi setelah aku mencoba masuk dalam keluarga NURANIKU dengan sendirinya aku tau dan mengerti apa itu IJT.. Yaa IJT adalah pelatihan jurnalistik islami, dimana dalam pelatihan itu tidak hanya mendapatkan teori saja, namun juga praktek how to make an interest news and share the fact of  islam with medias.. Tapi jujur saja, meskipun aku terasuk dalam kepanitiaan, aku tidak memberikan kontribusi apa-apa, yang ada hanya menyusahkan bapak penanggung jawab.. Ma'af ya pak guru.. :)

Mengingat aku sudah beberapa bulan berada dalam ketulusan keluarga NURANIKU, tapi siapa yang menyangka bahwa aku hanya mengenal satu, dua orang saja. Heehehe menggelitik memang, maklum aku memang hampir tidak pernah mempunyai kesempatan untuk hadir dalam event-event yang diadakan oleh NURANIKU sendiri. Kadang mulanya aku menjawab "insya Allah bisa ikut kak" tapi kindisi tubuhku yang sering ngedrop membuatku harus membatalkan "janji" itu. Tak jarang orangtuaku lebih membutuhkan bantuanku sehingga aku harus dengan besar hati mengalah dan tidam hadir.. Atau muridku yang rewel sehingga aku harus mengubah strategi belajar dan merubah jadwal belajar.. Yaaah, beginilah keadaanku..

Oiyaa, ada hal yang tak kalah lucu, aku sudah pernah satu atau dua kali berkomunikasi dengan mas'ul NURANIKU dan benar-benar TRAGIS, aku tidak tahu menahu yang mana orangnya, padahal beliau sudah sangat banyak membantuku dalam kegiatan IJT ini, Jazaakallaahu Khairan.. Tidak berusaha mencari tahu juga, toh kalau sudah takdir nanti juga tahu pikirku suatu kali. Benar-benar rasa ketidakpedulianku seringkali merajai psikologisku. Akibatnya, aku jadi orang yang kudet (kurang update) terhadap beberapa hal, termasuk yang satu itu.

Dan nyatalah saat aku mendapat jarkom dari para senior kalau akan diadakan sebuah obrolan tentang media islam, dan yang menjadi pembicaranya adalah mas'ul NURANIKU, aku begitu ternganga. Bukan mulut yang menganga ya, tapi aku kaget. Kaget karena teman-teman bertanya "mas'ul nuraniku yg mana sih mi, dy kan pembicara obsesi pekan ini", dengan polosnya aku menjawab "ga tauu, aku belum pernah lihat kaya apa wujudnya". Sontak komentar candaan yang agak menkritikku terlontar dari temanku. Dan aku hanya dapat senyum dibalik cadar yang aku kenakan, ya senyum malu karena tidak ma'rifat pada mas'ul sendiri..

Setelah dpt teguran-teguran dari teman.. Aku mendapat kesempatan untuk mengikuti obrolan tentang media, yaah.. Beginilah, karena harus mondar-mandir, jadi tidak begitu konsentrasi menymak kajian yang disampaikan.. Tapi hikmahnya, aku jadi tahu wujud mas'ul Nuraniku.. Dan Alhamdulillaahnya, beliau mau direpotkan lagi dengan membantu ku menyelesaikan tugas-tugas IJT.. "afwan wa Jazaakallaahu khairon kak Ahmad..

.:: || PROSES DAN PERKEMBANGAN JANIN DI RAHIM || ::.

Saat yang dinanti sepasang suami-isteri, dari perwujudan buah percintaan kasih-sayang sekian waktu, yaitu ketika rahim sang isteri mengandung janin calon bayi. Sungguh terasa sebagai anugerah indah tiada tara dari Allah Azza wa Jalla. Gerakan-gerakan kecil menyentak dinding perut sang ibu. Betapa bahagia calon orang tuanya. Ingin segera mengas
uh dan merawatnya.


Itulah kebesaran Allah Azza wa Jalla sebagai bukti kekuasaan Nya kepada manusia. Agar mereka banyak bersyukur. Di dalam al-Qur'an Allah Azza wa Jalla telah berfirman

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسَانِ مِن طِينٍ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ وَقَالُوا أَإِذَا ضَلَلْنَا فِي الْأَرْضِ أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ ۚ بَلْ هُم بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. Dan mereka berkata, "Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?" Bahkan (sebenarnya) mereka ingkar akan menemui Rabbnya. [As Sajdah : 7-10]

Firman Allah yang lain tentang penciptaan manusia ialah :

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkanNya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). [Al Mu'min : 67].

TAHAPAN PERKEMBANGAN JANIN
Setelah terjadi pembuahan yang ditakdirkan oleh Allah Azza wa Jalla hingga berproses menjadi seorang anak, mulailah sang ibu mengalami perubahan-perubahan di rahimnya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam satu hadits shahih bersabda.

إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ،

Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya." [Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu].

Allaahu akbar!!

BAHAYA FANATISME GOLONGAN

Oleh
Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali –hafizhahullah:


Sesungguhnya cobaan yang menimpa umat Islam tidak hanya terbatas pada satu sisi tertentu saja. Bahkan meluas sampai pendidikan dengan mengerahkan segenap unsur dan sarananya untuk merubah aqidah, nilai-nilai, dan akhlak Islam. Sehingga orang yang menjadi sasaran rencana-rencana setan itu berada di dalam puncak kegembiraan, dia menyangka berada di atas kemajuan yang hebat. Oleh karena itu, sesungguhnya para ahli maksiat di kalangan kaum muslimin dewasa ini menjadi korban pendidikan yang salah, yang menjadikan mereka hanya memikirkan dunia. Pendidikan tersebut semenjak awal menghendaki kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan bagi kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman:

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ 

Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri. [al-Baqarah/2:109]. 

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. [Ali ‘Imran/3:100].

Sehingga akhirnya para penyeru kesesatan dan tokoh-tokoh kekafiran memandang remeh terhadap kaum Muslimin. Mereka memecah belah mereka menjadi golongan-golongan dan partai-partai. 

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [ar-Rûm/30: 32]

Itu merupakan rencana Iblis yang saling diwasiatkan oleh tentara setan.

أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu; sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. [adz-Dzâriyât/51:53].

Sehingga akhirnya sampai kepada sumber penyakit dan akar bencana. Allah berfirman:

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. [al-Qashshash/28:4].

Akibatnya :

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu), lalu mereka patuh kepadanya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. (Qs. az-Zukhruf/43: 54).

Demikianlah, tentara setan mengetahui tempat kebinasaan, yang juga telah diketahui oleh rezim Fir’aun dan tentaranya, lalu mereka saling berwasiat untuk melakukan pengrusakan, dan mereka menggiring masyarakat menuju kelompok-kelompok kecil yang tenggelam di dalam perpecahan dan fanatisme golongan. Sebagian mereka disibukkan mengurusi sebagian yang lain, sehingga mereka tidak akan bangkit, mengenal jalan, berusaha mendengar agama, dan kembali kepada keyakinan.

Namun para Ribbiyyûn,[1] yaitu orang-orang yang selamat dengan karunia dan nikmat Allah, mereka menghadang arus banjir besar hizbiyyah (fanatisme golongan), di mana arus ini telah menggigitkan taringnya pada tubuh umat yang satu, mencabik-cabiknya, lalu menceraiberaikannya dengan tanpa persatuan kembali. 

Orang-orang zhalim berusaha menghapus rambu-rambu jalan dan sarana kemulian umat ini; yang jalan itu telah ditempuh oleh generasi teladan yang pertama. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang bersamanya, karena khawatir hal itu akan menjadi pelita yang akan menerangi orang-orang yang mengikuti keridhan Allah kepada keadaan yang lebih lurus. 

Para Ribbiyyûn itu mengumumkan di kalangan manusia kepada semua manusia, "Marilah menuju Islam dan Sunnah dengan pemahaman Salaful-Ummah (generasi awal umat ini), orang-orang yang telah mendahului masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya sampai hari pembalasan," karena fondasi yang semestinya, ialah menetapi al-Kitab dan Sunnah dengan mengikuti para sahabat Radhiyallahu anhum, dan bangkitnya orang yang ahli mendakwahkannya berdasarkan jalan kenabian. Tidak menyelisihi jalan kenabian itu, baik dengan nama, gambar, hakikat maupun bentuknya. Karena sesungguhnya, ini termasuk rambu-rambu peribadahan di atas petunjuk sebaik-baik makhluk (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Allah berfirman

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik". (Qs. Yûsuf/12:108).

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata: 
Ahlussunnah tidak menisbatkan diri kepada suatu nama; maksudnya mereka tidak dikenal di tengah masyarakat dengan satu nama tertentu sehingga menjadi identitas bagi pengikut jalan ini.

Ahlussunnah juga tidak mengkhususkan diri dengan satu amalan tertentu yang sejalan dengan namanya, sehingga amalan itu menjadi simbol mereka.[2] Ini adalah bencana dalam peribadahan. ini adalah peribadahan khusus.

Sedangkan peribadatan secara total, maka si pelaku tidak akan dikenal dengan satu nama diantara nama-nama ibadahnya. Dia menyambut seruan beribadah dengan berbagai ragamnya. Dia aktif bersama semua ahli ibadah. Dia tidak mengkhususkan diri dengan satu bentuk, isyarat, nama, pakaian juga metode yang dibuat-buat [3]. Bahkan, jika dia ditanya mengenai syaikhnya (gurunya), ia menjawab "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam". Jika ditanya mengenai thariqahnya, dia menjawab "ittiba" (mengikuti dalil). Jika ditanya mengenai pakaian khususnya, dia menjawab "pakaian takwa". Jika ditanya mengenai madzhabnya, dia menjawab "menjadikan Sunnah sebagai hakim". Jika ditanya mengenai tujuannya, ia menjawab: "Mereka menghendaki wajah Allah -Qs. al-An’âm/6 ayat52. Jika ditanya mengenai nasabnya, dia menjawab: 

أبي الإسلام لا أب لي سواه إذا افتخروا بقيس أو بتميم

Bapakku adalah Islam, aku tidak memiliki bapak selainnya 
Jika mereka membanggakan (nasab), ialah dengan Qais atau Tamim

Di antara manusia ada yang mengkhususkan pakaian tertentu; dia tidak mengenakan pakaian lainnya. Atau mengkhususkan duduk di tempat tertentu; dia tidak duduk di tempat lainnya. Atau mengkhususkan cara berjalan tertentu; dia tidak berjalan dengan selainnya. Atau mengkhususkan dengan bentuk pakaian dan cara yang tidak pernah ia tinggalkan. Atau mengkhususkan ibadah tertentu; dia tidak beribadah dengan selainnya, walaupun yang lain itu lebih tinggi dari ibadah yang ia lakukan. Atau mengkhususkan syaikh (guru) tertentu; dia tidak memandang guru yang lainnya, walaupun guru lain tersebut lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya daripada gurunya. 

Mereka semua terhalang dari meraih tuntutan yang paling tinggi. Kebiasaan-kebiasaan, gambar-gambar, keadaan-keadaan, istilah-istilah, telah menghalangi mereka dari memurnikan mutâba’ah (mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ). Sehingga mereka terasing dari Sunnah. Rumah mereka adalah rumah yang paling jauh dari Sunnah. Engkau melihat salah seorang dari mereka beribadah dengan riyadhah (tirakat), khalwat (menyepi) dan mengosongkan hati, dan mengganggap ilmu agama menghalangi jalan (yang dia tempuh). Jika disebutkan kepadanya muwâlah dan mu’âdah (membela dan memusuhi) karena Allah dan amar ma’ruf nahi mungkar, dia menganggap hal itu sebagai perbuatan berlebihan yang tidak perlu dan keburukan. Jika mereka melihat orang yang melakukannya di antara mereka, maka mereka akan mengusir dari kelompok mereka, dan mereka menganggap orang itu cemburu terhadap mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang paling jauh dari Allah, walaupun mereka paling banyak dipuji (oleh manusia), wallaahu a’lam [4]

Semoga Allah merahmati Ibnul-Qayyim al-Jauziyyah, karena beliau telah mengungkapkan yang bergejolak di dalam hati kita. Sesungguhnya kita telah ditimpa oleh keadaan ini, yang diwariskan dari mayoritas firqah-firqah dan golongan-golongan yang telah ditawan oleh belenggu-belenggu hizbiyyah (fanatisme golongan), dan nafas-nafasnya telah dibebani oleh beban-beban sirriyah (aktifitas yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi). 

Jika ada seorang muslim di luar kelompok mereka memberikan nasihat karena Allah dan Rasul-Nya, maka mereka menuduhnya sebagai "orang yang menghambat", "pengacau", "orang yang membuat keributan", "dia ingin merobohkan shaf (bangunan) Islam dan membuka peluang kepada musuh-musuh Islam". 

Sebaliknya, jika datang pemberi nasihat dari kalangan mereka sendiri, mereka menuduh "dia terjatuh di jalan ini, menghendaki perpecahan dan menelantarkan kawan". 

Aduhai inginnya aku mengetahui! Kapan mereka mengetahui, bahwa lingkaran Islam itu sangat luas, persaudaraan iman itu lebih penting, dan manhaj (jalan) Salaf yang pertama itu lebih berilmu, lebih bijaksana, dan lebih selamat? 

(Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Isma'il Muslim al-Atsari dari makalah berjudul "Ribbiyyûn lâ hizbiyyûn", dari kitab al-Maqalât as-Salafiyah fil 'Aqidah wad-Da`wah, wal-Manhaj, wal`Waqi`, karya Syaikh Salim bin 'Id al-Hilali -hafizhahullah-, Penerbit Maktabah al-Furqân, Cetakan I, Tahun 1422 H/2001 M, hlm. 83-85)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XII/1429H/2008M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

sumber: almanhaj.or.id