Oleh
Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali –hafizhahullah:
Sesungguhnya cobaan yang menimpa umat Islam tidak hanya terbatas pada satu sisi tertentu saja. Bahkan meluas sampai pendidikan dengan mengerahkan segenap unsur dan sarananya untuk merubah aqidah, nilai-nilai, dan akhlak Islam. Sehingga orang yang menjadi sasaran rencana-rencana setan itu berada di dalam puncak kegembiraan, dia menyangka berada di atas kemajuan yang hebat. Oleh karena itu, sesungguhnya para ahli maksiat di kalangan kaum muslimin dewasa ini menjadi korban pendidikan yang salah, yang menjadikan mereka hanya memikirkan dunia. Pendidikan tersebut semenjak awal menghendaki kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan bagi kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman:
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ
Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri. [al-Baqarah/2:109].
Allah juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. [Ali ‘Imran/3:100].
Sehingga akhirnya para penyeru kesesatan dan tokoh-tokoh kekafiran memandang remeh terhadap kaum Muslimin. Mereka memecah belah mereka menjadi golongan-golongan dan partai-partai.
كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [ar-Rûm/30: 32]
Itu merupakan rencana Iblis yang saling diwasiatkan oleh tentara setan.
أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu; sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. [adz-Dzâriyât/51:53].
Sehingga akhirnya sampai kepada sumber penyakit dan akar bencana. Allah berfirman:
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. [al-Qashshash/28:4].
Akibatnya :
فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ
Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu), lalu mereka patuh kepadanya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. (Qs. az-Zukhruf/43: 54).
Demikianlah, tentara setan mengetahui tempat kebinasaan, yang juga telah diketahui oleh rezim Fir’aun dan tentaranya, lalu mereka saling berwasiat untuk melakukan pengrusakan, dan mereka menggiring masyarakat menuju kelompok-kelompok kecil yang tenggelam di dalam perpecahan dan fanatisme golongan. Sebagian mereka disibukkan mengurusi sebagian yang lain, sehingga mereka tidak akan bangkit, mengenal jalan, berusaha mendengar agama, dan kembali kepada keyakinan.
Namun para Ribbiyyûn,[1] yaitu orang-orang yang selamat dengan karunia dan nikmat Allah, mereka menghadang arus banjir besar hizbiyyah (fanatisme golongan), di mana arus ini telah menggigitkan taringnya pada tubuh umat yang satu, mencabik-cabiknya, lalu menceraiberaikannya dengan tanpa persatuan kembali.
Orang-orang zhalim berusaha menghapus rambu-rambu jalan dan sarana kemulian umat ini; yang jalan itu telah ditempuh oleh generasi teladan yang pertama. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang bersamanya, karena khawatir hal itu akan menjadi pelita yang akan menerangi orang-orang yang mengikuti keridhan Allah kepada keadaan yang lebih lurus.
Para Ribbiyyûn itu mengumumkan di kalangan manusia kepada semua manusia, "Marilah menuju Islam dan Sunnah dengan pemahaman Salaful-Ummah (generasi awal umat ini), orang-orang yang telah mendahului masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya sampai hari pembalasan," karena fondasi yang semestinya, ialah menetapi al-Kitab dan Sunnah dengan mengikuti para sahabat Radhiyallahu anhum, dan bangkitnya orang yang ahli mendakwahkannya berdasarkan jalan kenabian. Tidak menyelisihi jalan kenabian itu, baik dengan nama, gambar, hakikat maupun bentuknya. Karena sesungguhnya, ini termasuk rambu-rambu peribadahan di atas petunjuk sebaik-baik makhluk (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Allah berfirman
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik". (Qs. Yûsuf/12:108).
Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata:
Ahlussunnah tidak menisbatkan diri kepada suatu nama; maksudnya mereka tidak dikenal di tengah masyarakat dengan satu nama tertentu sehingga menjadi identitas bagi pengikut jalan ini.
Ahlussunnah juga tidak mengkhususkan diri dengan satu amalan tertentu yang sejalan dengan namanya, sehingga amalan itu menjadi simbol mereka.[2] Ini adalah bencana dalam peribadahan. ini adalah peribadahan khusus.
Sedangkan peribadatan secara total, maka si pelaku tidak akan dikenal dengan satu nama diantara nama-nama ibadahnya. Dia menyambut seruan beribadah dengan berbagai ragamnya. Dia aktif bersama semua ahli ibadah. Dia tidak mengkhususkan diri dengan satu bentuk, isyarat, nama, pakaian juga metode yang dibuat-buat [3]. Bahkan, jika dia ditanya mengenai syaikhnya (gurunya), ia menjawab "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam". Jika ditanya mengenai thariqahnya, dia menjawab "ittiba" (mengikuti dalil). Jika ditanya mengenai pakaian khususnya, dia menjawab "pakaian takwa". Jika ditanya mengenai madzhabnya, dia menjawab "menjadikan Sunnah sebagai hakim". Jika ditanya mengenai tujuannya, ia menjawab: "Mereka menghendaki wajah Allah -Qs. al-An’âm/6 ayat52. Jika ditanya mengenai nasabnya, dia menjawab:
أبي الإسلام لا أب لي سواه إذا افتخروا بقيس أو بتميم
Bapakku adalah Islam, aku tidak memiliki bapak selainnya
Jika mereka membanggakan (nasab), ialah dengan Qais atau Tamim
Di antara manusia ada yang mengkhususkan pakaian tertentu; dia tidak mengenakan pakaian lainnya. Atau mengkhususkan duduk di tempat tertentu; dia tidak duduk di tempat lainnya. Atau mengkhususkan cara berjalan tertentu; dia tidak berjalan dengan selainnya. Atau mengkhususkan dengan bentuk pakaian dan cara yang tidak pernah ia tinggalkan. Atau mengkhususkan ibadah tertentu; dia tidak beribadah dengan selainnya, walaupun yang lain itu lebih tinggi dari ibadah yang ia lakukan. Atau mengkhususkan syaikh (guru) tertentu; dia tidak memandang guru yang lainnya, walaupun guru lain tersebut lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya daripada gurunya.
Mereka semua terhalang dari meraih tuntutan yang paling tinggi. Kebiasaan-kebiasaan, gambar-gambar, keadaan-keadaan, istilah-istilah, telah menghalangi mereka dari memurnikan mutâba’ah (mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ). Sehingga mereka terasing dari Sunnah. Rumah mereka adalah rumah yang paling jauh dari Sunnah. Engkau melihat salah seorang dari mereka beribadah dengan riyadhah (tirakat), khalwat (menyepi) dan mengosongkan hati, dan mengganggap ilmu agama menghalangi jalan (yang dia tempuh). Jika disebutkan kepadanya muwâlah dan mu’âdah (membela dan memusuhi) karena Allah dan amar ma’ruf nahi mungkar, dia menganggap hal itu sebagai perbuatan berlebihan yang tidak perlu dan keburukan. Jika mereka melihat orang yang melakukannya di antara mereka, maka mereka akan mengusir dari kelompok mereka, dan mereka menganggap orang itu cemburu terhadap mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang paling jauh dari Allah, walaupun mereka paling banyak dipuji (oleh manusia), wallaahu a’lam [4]
Semoga Allah merahmati Ibnul-Qayyim al-Jauziyyah, karena beliau telah mengungkapkan yang bergejolak di dalam hati kita. Sesungguhnya kita telah ditimpa oleh keadaan ini, yang diwariskan dari mayoritas firqah-firqah dan golongan-golongan yang telah ditawan oleh belenggu-belenggu hizbiyyah (fanatisme golongan), dan nafas-nafasnya telah dibebani oleh beban-beban sirriyah (aktifitas yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi).
Jika ada seorang muslim di luar kelompok mereka memberikan nasihat karena Allah dan Rasul-Nya, maka mereka menuduhnya sebagai "orang yang menghambat", "pengacau", "orang yang membuat keributan", "dia ingin merobohkan shaf (bangunan) Islam dan membuka peluang kepada musuh-musuh Islam".
Sebaliknya, jika datang pemberi nasihat dari kalangan mereka sendiri, mereka menuduh "dia terjatuh di jalan ini, menghendaki perpecahan dan menelantarkan kawan".
Aduhai inginnya aku mengetahui! Kapan mereka mengetahui, bahwa lingkaran Islam itu sangat luas, persaudaraan iman itu lebih penting, dan manhaj (jalan) Salaf yang pertama itu lebih berilmu, lebih bijaksana, dan lebih selamat?
(Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Isma'il Muslim al-Atsari dari makalah berjudul "Ribbiyyûn lâ hizbiyyûn", dari kitab al-Maqalât as-Salafiyah fil 'Aqidah wad-Da`wah, wal-Manhaj, wal`Waqi`, karya Syaikh Salim bin 'Id al-Hilali -hafizhahullah-, Penerbit Maktabah al-Furqân, Cetakan I, Tahun 1422 H/2001 M, hlm. 83-85)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XII/1429H/2008M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
sumber: almanhaj.or.id
Sebagai nasehat dan semoga tidak membuat kita berputus dari rahmat Allah, cobalah
kita lihat sebuah kisah yang pernah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam berikut ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran-pelajaran berharga di
dalamnya.
Kisah Taubat Pembunuh 100 Jiwa
Kisah ini diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri
radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أنّ نَبِيَّ الله – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( كَانَ فِيمَنْ كَانَ
قَبْلَكمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وتِسْعينَ نَفْساً ، فَسَأَلَ عَنْ أعْلَمِ أَهْلِ
الأرضِ ، فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ ، فَأَتَاهُ . فقال : إنَّهُ قَتَلَ تِسعَةً
وتِسْعِينَ نَفْساً فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوبَةٍ ؟ فقالَ : لا ، فَقَتَلهُ فَكَمَّلَ
بهِ مئَةً ، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرضِ ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ
عَالِمٍ . فقَالَ : إِنَّهُ قَتَلَ مِئَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ ؟
فقالَ : نَعَمْ ، ومَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وبَيْنَ التَّوْبَةِ ؟ انْطَلِقْ إِلى
أرضِ كَذَا وكَذَا فإِنَّ بِهَا أُناساً يَعْبُدُونَ الله تَعَالَى فاعْبُدِ الله
مَعَهُمْ ، ولاَ تَرْجِعْ إِلى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أرضُ سُوءٍ ، فانْطَلَقَ
حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ ، فاخْتَصَمَتْ فِيهِ
مَلائِكَةُ الرَّحْمَةِ ومَلائِكَةُ العَذَابِ . فَقَالتْ مَلائِكَةُ الرَّحْمَةِ
: جَاءَ تَائِباً ، مُقْبِلاً بِقَلبِهِ إِلى اللهِ تَعَالَى ، وقالتْ مَلائِكَةُ
العَذَابِ : إنَّهُ لمْ يَعْمَلْ خَيراً قَطُّ ، فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ في صورَةِ
آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ
- أيْ حَكَماً – فقالَ : قِيسُوا ما بينَ الأرضَينِ فَإلَى أيّتهما كَانَ أدنَى
فَهُوَ لَهُ . فَقَاسُوا فَوَجَدُوهُ أدْنى إِلى الأرْضِ التي أرَادَ ،
فَقَبَضَتْهُ مَلائِكَةُ الرَّحمةِ )) مُتَّفَقٌ عليه .
“Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa.
Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi.
Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata,
”Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Rahib pun
menjawabnya, ”Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.” Lalu orang tersebut
membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya.
Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di
muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim
tersebut, ”Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya masih
diterima?” Orang alim itu pun menjawab, ”Ya masih diterima. Dan siapakah yang
akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan
ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang
menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu
kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat
jelek.”
Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim
tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya,
terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat
rahmat berkata, ”Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan
hatinya kepada Allah”. Namun malaikat adzab berkata, ”Orang ini belum pernah
melakukan kebaikan sedikit pun”. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk
manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus
perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ”Ukurlah jarak kedua tempat tersebut
(jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia
tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu
mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang
ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya,ruhnya pun dicabut oleh
malaikat rahmat.”1
Beberapa Faedah Hadits
Pertama: Luasnya ampunan Allah
Hadits ini menunjukkan luasnya ampunan Allah. Hal ini dikuatkan dengan hadits
lainnya,
حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه
وسلم- يَقُولُ « قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى
وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ
آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى
غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ
الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ
بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً »
Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Wahai anak Adam, sesungguhnya
jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu
tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi
hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam,
seandainya seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam
keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu
dengan ampunan sepenuh bumi pula.”2
Kedua: Allah akan mengampuni setiap dosa meskipun dosa besar selama mau
bertaubat
Selain faedah dari hadits ini, kita juga dapat melihat pada firman Allah
Ta’ala,
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ
رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka
sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53). Ibnu Katsir mengatakan, ”Ayat yang mulia
ini berisi seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat baik kekafiran dan
lainnya untuk segera bertaubat kepada Allah. Ayat ini mengabarkan bahwa Allah akan
mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang ingin bertaubat dari dosa-dosa
tersebut, walaupun dosa tersebut amat banyak, bagai buih di lautan. ”3
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan mengampuni setiap dosa walaupun itu dosa
kekufuran, kesyirikan, dan dosa besar (seperti zina, membunuh dan minum minuman
keras). Sebagaimana Ibnu Katsir mengatakan, ”Berbagai hadits menunjukkan bahwa
Allah mengampuni setiap dosa (termasuk pula kesyirikan) jika seseorang
bertaubat. Janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah walaupun begitu
banyak dosa yang ia lakukan karena pintu taubat dan rahmat Allah begitu luas.”4
Ketiga: Janganlah membuat seseorang putus asa dari rahmat Allah
Ketika menjelaskan surat Az Zumar ayat 53 di atas, Ibnu Abbas mengatakan,
“Barangsiapa yang membuat seorang hamba berputus asa dari taubat setelah
turunnya ayat ini, maka ia berarti telah menentang Kitabullah ‘azza wa jalla.
Akan tetapi seorang hamba tidak mampu untuk bertaubat sampai Allah memberi
taufik padanya untuk bertaubat.”5
Keempat: Seseorang yang melakukan dosa beberapa kali dan ia bertaubat, Allah
pun akan mengampuninya
Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits lainnya, dari Abu Huroiroh, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang diceritakan dari Rabbnya ‘azza wa
jalla,
أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ
تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا
يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ
رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ
ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ.
ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ
تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا
يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ
لَكَ
“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu dia mengatakan ‘Allahummagfirliy
dzanbiy’ [Ya Allah, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah
berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa
dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya),
kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay
robbi agfirli dzanbiy’ [Wahai Rabb, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman,
‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang
mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni
dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia
mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ [Wahai Rabb, ampunilah dosaku]. Lalu
Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia
memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa.
Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.”6 An Nawawi dalam Syarh
Muslim mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ‘beramallah sesukamu’ adalah
selama engkau berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu.
An Nawawi mengatakan, ”Seandainya seseorang berulang kali melakukan dosa hingga
100 kali, 1000 kali atau lebih, lalu ia bertaubat setiap kali berbuat dosa,
maka pasti Allah akan menerima taubatnya setiap kali ia bertaubat, dosa-dosanya
pun akan gugur. Seandainya ia bertaubat dengan sekali taubat saja setelah ia
melakukan semua dosa tadi, taubatnya pun sah.”7
Ya Rabb, begitu luas sekali rahmat dan ampunan-Mu terhadap hamba yang hina ini
…
Kelima: Diterimanya taubat seorang pembunuh
An Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Ini adalah madzhbab para ulama dan mereka
pun berijma’ (bersepakat) bahwa taubat seorang yang membunuh dengan sengaja,
itu sah. Para ulama tersebut tidak berselisih pendapat kecuali Ibnu ‘Abbas.
Adapun beberapa perkataan yang dinukil dari sebagian salaf yang menyatakan
taubatnya tidak diterima, itu hanyalah perkataan dalam maksud mewanti-wanti
besarnya dosa membunuh dengan sengaja. Mereka tidak memaksudkan bahwa taubatnya
tidak sah.”8
Keenam: Orang yang bertaubat hendaknya berhijrah dari lingkungan yang jelek
An Nawawi mengatakan, ”Hadits ini menunjukkan orang yang ingin bertaubat
dianjurkan untuk berpindah dari tempat ia melakukan maksiat.”9
Ketujuh: Memperkuat taubat yaitu berteman dengan orang yang sholih
An Nawawi mengatakan, ”Hendaklah orang yang bertaubat mengganti temannya dengan
teman-teman yang baik, sholih, berilmu, ahli ibadah, waro’dan orang-orang yang
meneladani mereka-mereka tadi. Hendaklah ia mengambil manfaat ketika bersahabat
dengan mereka.”10
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita agar bersahabat
dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ
، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا
تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ
ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek
adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika
engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau
minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak
mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya
yang tidak enak.”11
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman
dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini
juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan
manfaat dalam agama dan dunia.”12
Kedelapan: Keutamaan ilmu dan orang yang berilmu
Dalam hadits ini dapat kita ambil pelajaran pula bahwa orang yang berilmu
memiliki keutamaan yang luar biasa dibanding ahli ibadah. Sebagaimana
disebutkan dalam hadits lainnya, dari Abu Darda’, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ
الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
”Dan keutamaan orang yang berilmu dibanding seorang ahli ibadah adalah bagaikan
keutamaan bulan pada malam purnama dibanding bintang-bintang lainnya.”13 Al
Qodhi mengatakan, ”Orang yang berilmu dimisalkan dengan bulan dan ahli ibadah
dimisalkan dengan bintang karena kesempurnaan ibadah dan cahayanya tidaklah
muncul dari ahli ibadah. Sedangkan cahaya orang yang berilmu berpengaruh pada
yang lainnya.”14
Kesembilan: Orang yang berfatwa tanpa ilmu hanya membawa kerusakan
Lihatlah bagaimana kerusakan yang diperbuat oleh ahli ibadah yang berfatwa
tanpa dasar ilmu. Ia membuat orang lain sesat bahkan kerugian menimpa dirinya
sendiri. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Umar bin ‘Abdul ‘Aziz,
مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
”Barangsiapa beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan
lebih besar daripada perbaikan yang dilakukan.”15
Syarat Diterimanya Taubat
Syarat taubat yang mesti dipenuhi oleh seseorang yang ingin bertaubat adalah
sebagai berikut:
Pertama: Taubat dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk atau untuk tujuan
duniawi.
Kedua: Menyesali dosa yang telah dilakukan sehingga ia pun tidak ingin
mengulanginya kembali.
Ketiga: Tidak terus menerus dalam berbuat dosa. Maksudnya, apabila ia melakukan
keharaman, maka ia segera tinggalkan dan apabila ia meninggalkan suatu yang
wajib, maka ia kembali menunaikannya. Dan jika berkaitan dengan hak manusia,
maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf.
Keempat: Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut lagi karena jika
seseorang masih bertekad untuk mengulanginya maka itu pertanda bahwa ia tidak
benci pada maksiat.
Kelima: Taubat dilakukan pada waktu diterimanya taubat yaitu sebelum datang
ajal atau sebelum matahari terbit dari arah barat. Jika dilakukan setelah itu,
maka taubat tersebut tidak lagi diterima.
Inilah syarat taubat yang biasa disebutkan oleh para ulama.
Penutup
Saudaraku yang sudah bergelimang maksiat dan dosa. Kenapa engkau berputus asa
dari rahmat Allah? Lihatlah bagaimana ampunan Allah bagi setiap orang yang
memohon ampunan pada-Nya. Orang yang sudah membunuh 99 nyawa + 1 pendeta yang
ia bunuh, masih Allah terima taubatnya. Lantas mengapa engkau masih berputus
asa dari rahmat Allah?!
Orang yang dulunya bergelimang maksiat pun setelah ia taubat, bisa saja ia
menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Ia bisa menjadi muslim yang
sholih dan muslimah yang sholihah. Itu suatu hal yang mungkin dan banyak sekali
yang sudah membuktikannya. Mungkin engkau pernah mendengar nama Fudhail bin
Iyadh. Dulunya beliau adalah seorang perampok. Namun setelah itu bertaubat dan
menjadi ulama besar. Itu semua karena taufik Allah. Kami pun pernah mendengar
ada seseorang yang dulunya terjerumus dalam maksiat dan pernah menzinai
pacarnya. Namun setelah berhijrah dan bertaubat, ia pun menjadi seorang yang
alim dan semakin paham agama. Semua itu karena taufik Allah. Dan kami yakin
engkau pun pasti bisa lebih baik dari sebelumnya. Semoga Allah beri taufik.
Ingatlah bahwa orang yang berbuat dosa kemudia ia bertaubat dan Allah ampuni,
ia seolah-olah tidak pernah berbuat dosa sama sekali. Dari Abu ‘Ubaidah bin
‘Abdillah dari ayahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ
”Orang yang bertaubat dari suatu dosa seakan-akan ia tidak pernah berbuat dosa
itu sama sekali.”16
Setiap hamba pernah berbuat salah, namun hamba yang terbaik adalah yang rajin
bertaubat. Dari Anas, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Semua keturunan Adam adalah orang yang pernah berbuat salah. Dan sebaik-baik
orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat.”17
Orang yang bertaubat akan Allah ganti kesalahan yang pernah ia perbuat dengan
kebaikan. Sehingga seakan-akan yang ada dalam catatan amalannya hanya kebaikan
saja. Allah Ta’ala berfirman,
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ
اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
”Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka
itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqon: 70)
Al Hasan Al Bashri mengatakan, ”Allah akan mengganti amalan kejelekan yang
diperbuat seseorang dengan amalan sholih. Allah akan mengganti kesyirikan yang
pernah ia perbuat dengan keikhlasan. Allah akan mengganti perbuatan maksiat
dengan kebaikan. Dan Allah pun mengganti kekufurannya dahulu dengan
keislaman.”18
Sekarang, segeralah bertaubat dan memenuhi syarat-syaratnya. Lalu perbanyaklah
amalan kebaikan dengan melaksanakan yang wajib-wajib dan sempurnakan dengan
shalat sunnah, puasa sunnah dan sedekah, karena amalan kebaikan niscaya akan
menutupi dosa-dosa yang telah engkau perbuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah memberikan sebuah nasehat berharga kepada Abu Dzar Al Ghifariy
Jundub bin Junadah,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan
dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan
sesama dengan akhlaq yang baik.”19
Semoga Allah menerima setiap taubat kita. Semoga Allah senantiasa memberi
taufik kepada kita untuk menggapai ridho-Nya.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Disusun di rumah mertua tercinta, Panggang-Gunung Kidul , 1 Shofar 1431 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel: http://muslimah.or.id
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa dua kalimat syahadah merupakan dasar sah dan diterimanya semua amal. Kedua kalimat ini memiliki makna, syarat-syarat dan rukun-rukun yang harus diketahui, diyakini, diimani dan diamalkan oleh seluruh kaum Muslimin.
Makna kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Makna dari kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (laa ilaaha illallaah) adalah:
لاَ مَعْبُوْدَ بِِِِِحَقٍّ إِلاَّ اللهُ.
“Tidak ada sesembahan yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Ada beberapa penafsiran yang salah tentang makna kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (laa ilaaha illallaah), dan kesalahan tersebut telah menyebar luas. Di antara kesalahan tersebut adalah:[[1]
1. Menafsirkan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan لاَ مَعْبُوْدَ إِلاَّ اللهُ (tidak ada yang diibadahi kecuali Allah), padahal makna tersebut rancu karena jika demikian, maka setiap yang diibadahi, baik benar maupun salah, berarti Allah.
2. Menafsirkan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan لاَ خَالِقَ إِلاَّ اللهُ (tidak ada pencipta kecuali Allah), padahal makna tersebut merupakan sebagian dari makna kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dan ini masih berupa Tauhid Rububiyyah saja, sehingga belum cukup. Inilah yang diyakini juga oleh orang-orang musyrik.
3. Menafsirkan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan لاَ حَاكِمِيَّةَ إِلاَّ اللهُ (tidak ada hakim (penguasa) kecuali Allah), pengertian ini pun tidak mencukupi karena apabila mengesakan Allah hanya dengan pengakuan atas sifat Allah Yang Maha Penguasa saja namun masih berdo’a kepada selain-Nya atau menyelewengkan tujuan ibadah kepada sesuatu selain-Nya, maka hal ini belum termasuk definisi yang benar.
Syarat-Syarat Kalimat [2] لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Syarat Pertama: اَلْعِلْمُ (al-‘ilmu)
Yaitu mengetahui arti kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (laa ilaaha illallaah).
Allah Azza wa Jalla berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali hanya Allah...” [Muhammad: 19]
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Melainkan mereka yang mengakui kebenaran, sedang mereka orang-orang yang mengetahui.” [Az-Zukhruf: 86]
Yang dimaksud dengan “mengakui kebenaran” adalah ke-benaran kalimat laa ilaaha illallaah. Sedangkan maksud dari “sedang mereka orang-orang yang mengerti” adalah mengerti dengan hati mereka apa yang diucapkan dengan lisan.
Dalam hadits shahih dari Sahabat ‘Utsman Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“Barangsiapa yang meninggal dunia dan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, maka ia masuk Surga.”[3]
Syarat Kedua: اَلْيَقِيْنُ (al-yaqiin)
Yaitu yakin serta benar-benar memahami kalimat laa ilaaha illallaah tanpa ada keraguan dan kebimbangan sedikit pun.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan dirinya, merekalah orang-orang yang benar.” [Al-Hujuraat: 15]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
...أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ لاَ يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ، غَيْرَ شَاكٍّ فِيْهِمَا، إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“... Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali hanya Allah dan bahwasanya aku (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah utusan Allah, tidaklah seorang hamba menjumpai Allah (dalam keadaan) tidak ragu-ragu terhadap kedua (syahadat)nya tersebut, melainkan ia masuk Surga.”[4]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
...اذْهَبْ بِنَعْلَيَّ هَاتَيْنِ، فَمَنْ لَقِيْتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ...
“... Pergilah dengan kedua sandalku ini, maka siapa saja yang engkau temui di belakang kebun ini yang ia bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dengan hati yang meyakininya, maka berikanlah kabar gembira kepadanya dengan masuk Surga.” [5]
Maka, syarat untuk masuk Surga bagi orang yang mengucap-kannya, yaitu hatinya harus yakin dengannya (kalimat Tauhid) serta tidak ragu-ragu terhadapnya. Apabila syarat tersebut tidak ada maka yang disyaratkan (masyrut) juga tidak ada. Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata:
اَلْيَقِيْنُ اْلإِيْمَانُ كُلُّهُ وَالصَّبْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ.
“Yakin adalah Iman secara keseluruhan, dan sabar adalah sebagian dari iman.”[6]
Tidak ada keraguan lagi bahwasanya orang yang yakin dengan makna laa ilaaha illallaah, seluruh anggota tubuhnya akan patuh beribadah kepada Allah Azza wa Jalla yang tiada sekutu bagi-Nya, dan akan mentaati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena inilah Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu memohon ditambahkan iman dan keyakinan dengan berdo’a:
اَللَّهُمَّ زِدْنَا إِيْمَانًا، وَيَقِيْنًا، وَفِقْهًا.
“Ya Allah, tambahkanlah kepada kami keimanan, keyakinan, dan kefahaman.” [7]
Syarat Ketiga: اْلإِخْلاَصُ (al-ikhlaash)
Yaitu memurnikan amal perbuatan dari segala kotoran-kotoran syirik, dan mengikhlaskan segala macam ibadah hanya kepada Allah.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
“... Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)...” [Az-Zumar: 2-3]
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah hanya kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya...” [Al-Bayyinah: 5]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفاَعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ.
“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan: ‘Laa ilaaha illallaah,’ dengan ikhlas dari hati atau jiwanya.” [8]
Syarat Keempat: اَلصِّدْقُ (ash-shidqu)
Yaitu jujur, maksudnya mengucapkan kalimat ini dengan disertai pembenaran oleh hatinya. Barangsiapa lisannya mengucapkan namun hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِين َيُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
“Dan di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,’ padahal mereka itu sesung-guhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak me-nipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” [Al-Baqarah: 8-9]
Juga firman Allah Azza wa Jalla tentang orang munafik:
قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ
“... Mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah...’” [Al-Munafiquun: 1]
Kemudian Allah Azza wa Jalla mendustakan mereka dengan firman-Nya:
وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ
“... Dan Allah mengetahui bahwasanya engkau adalah utusan-Nya dan Allah bersaksi bahwasanya orang-orang munafik itu berdusta.” [Al-Munaafiquun: 1]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ.
“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasul Allah, dengan jujur dari hatinya, melainkan Allah mengharamkannya masuk Neraka.”[9]
Syarat Kelima: اَلْمَحَبَّةُ (al-mahabbah)
Yaitu cinta, maksudnya mencintai kalimat tauhid ini, men-cintai isinya dan apa-apa yang ditunjukkan atasnya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Dan orang-orang yang beriman, sangat besar cinta mereka kepada Allah....” [Al-Baqarah: 165]
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: ‘Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Ali ‘Imran: 31]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ: مَنْ كاَنَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ.
“Tiga perkara yang bila ketiga-tiganya terdapat pada seseorang ia akan mendapatkan kelezatan iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, (2) mencintai seseorang semata-mata karena Allah, (3) tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia tidak suka dicampakkan ke dalam api.”[10]
Syarat Keenam: اْلإِنْقِيَادُ (al-inqiyaad)
Yaitu tunduk dan patuh. Seorang Muslim harus tunduk dan patuh terhadap apa-apa yang ditunjukkan oleh kalimat laa ilaaha illallaah, hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengamalkan syari’at-syari’at-Nya, beriman dengan-Nya, dan berkeyakinan bahwasanya hal itu adalah benar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“Dan kembalilah kamu kepada Rabb-mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” [Az-Zumar: 54]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan dia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” [An-Nisaa': 125]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
“Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” [Luqman: 22]
Syarat Ketujuh: اَلْقَبُوْلُ (al-qabuul)
Yaitu menerima kandungan dan konsekuensi dari kalimat syahadat ini, menyembah Allah Azza wa Jalla semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Siapa yang mengucapkan, tetapi tidak menerima dan mentaati, maka ia termasuk dari orang-orang yang difirmankan Allah Azza wa Jalla :
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaha illallaah (tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah)’ mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: ‘Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?” [Ash-Shaaffaat: 35-36]
Ini seperti halnya penyembah kubur di zaman ini. Mereka mengikrarkan: “Laa ilaaha illallaah,” tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan mereka terhadap kuburan. Dengan demikian berarti mereka belum menerima makna: “Laa ilaaha illallaah.” [11]
Rukun Kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (laa ilaaha illallaah) memiliki 2 rukun, yaitu:
1.النَّفْيُ, yaitu mengingkari (menafikan) semua yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. اْلإِثْبَاتُ, yaitu menetapkan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“... Barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang kepada buhul tali yang sangat kokoh dan tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah: 256]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu, maka di antara ummat itu ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (Rasul-rasul).” [An-Nahl: 36]
Makna Kalimat مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ (Muhammad Rasulullah) [12]
Makna dari syahadat مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ (Muhammad Rasulullah) adalah:
1. طَاعَتُهُ فِيْمَا أَمَرَ, yaitu mentaati apa-apa yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan.
2. تَصْدِيْقُهُ فِيْمَا أَخْبَرَ , yaitu membenarkan apa-apa yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan.
3. اِجْتِنَابُ مَا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ , yaitu menjauhkan diri dari apa-apa yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam larang.
4. أَنْ لاَ يَعْبُدَ اللهَ إِلاَّ بِمَا شَرَعَ, yaitu tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan cara yang telah disyari’atkan. Artinya, kita wajib beribadah kepada Allah menurut apa yang disyari’atkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita wajib ittiba’ kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tentang makna dan konsekuensi kalimat مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ (Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) akan dibahas lebih lanjut pada point ke-24: Wajibnya Mencintai dan Mengagungkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (hal.253).
[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
sumb: almanhaj.or.id