Sabtu, 29 September 2012

.:: || Surat dari Ibu dan Ayah yg telah Renta || ::.

.Anakku…
ketika aku semakin tua,

aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku.

Jika suatu ketika aku memecahkan piring,
atau menumpahkan sup diatas meja karena penglihatanku berkurang,
aku harap kamu tidak memarahiku,
karena aku selalu merasa bersalah saat kamu berteriak.

Ketika pendengaranku semakin memburuk,
dan aku tidak bisa mendengar apa ayang kamu katakan,
aku harap kamu tidak memanggilku “Tuli!”
mohon dengan sabar ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya untukku.

Maaf, anakku… aku semakin tua.
Ketika lututku mulai lemah,
aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun,
seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan

aku mohon, jangan bosan denganku.
Ketika aku terus mengulangi apa yang ku katakan,
seperti kaset rusak,
aku harap kamu terus mendengarkan aku.
Tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku.
Sebab apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil,
dan kamu ingin sebuah balon?
Kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang-ulang,
sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Maafkan juga bauku…
tercium seperti orang yang sudah tua.
aku mohon jangan memaksaku untuk mandi,
sebab tubuhku lemah..
Orang tua mudah sakit karena mereka rentan terhadap dingin,
aku harap aku tidak terlihat kotor bagimu.
Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil?
aku selalu mengejar-ngejar kamu… karena kamu tidak ingin mandi.
Aku harap kamu bisa bersabar denganku,
ketika aku selalu rewel.

Ini semua bagian dari menjadi tua,
kamu akan mengerti ketika kamu tua.
Dan jika kamu memiliki waktu luang,
aku harap kita bisa berbicara,
walau hanya untuk beberapa menit.
Aku selalu sendiri sepanjang waktu,
dan tidak memiliki seorang pun untuk diajak bicara.
Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan.
Bahkan jika kamu tidak tertarik dengan ceritaku,
aku mohon berikan aku waktu untuk bersamamu,
apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil?
aku selalu mendengarkan apapun yang kamu ceritakan tentang mainanmu.

Ketika saatnya tiba…
dan aku hanya bisa terbaring, sakit dan sakit,
aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku.
Maaf kalau aku sengaja mengompol atau membuat berantakan.
Aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku,
selama beberapa saat terakhir dalam hidupku,
aku mungkin tidak akan bertahan lebih lama.
Ketika waktu kematianku datang,
aku harap kamu memegang tanganku,
dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian.

Semoga Allaah selalu memberikan berkah padamu
karena kamu mencintai, ibu dan ayahmu…
Terima kasih atas segala perhatianmu, nak…
kami mencintaimu dengan kasih yang berlimpah



With L ♥ V E
Ibu & Ayah

Hukum Mengucapkan "waiyyakum"

Assalamu'alaykum Warahmatullaah Wabaraakatuh…

Bismillahirrohmanirrohim…

Teringat Beberapa waktu yang lalu pernah ditegur sahabat kecil ku, Setelah memperoleh jawaban tentang pertanyaan – pertanyaannya, dia pun mengucapkan “Jazakillah Khai

r mba…” kemudian Aku membalasnya hanya dengan mengucapkan “amin” dan dia bertanya seakan akan tidak puas dengan jawaban ku ” kenapa mba gak doakan aku juga?, kenapa gk jawab “waiyyaki” ?” waktu itu aku cuma tersenyum dan menjawab, “sama aza kan???…” tp dalam hati ku berkata “Insya Allah mba ingin membagi masalah ini dengan mu..” *senyum*

Banyak orang yang sering mengucapkan “waiyyak (dan kepadamu juga)” atau “waiyyakum (dan kepada kalian juga)” ketika telah dido’akan atau mendapat kebaikan dari seseorang. Apakah ada sunnahnya mengucapkan seperti ini? Lalu bagaimanakah ucapan yang sebenarnya ketika seseorang telah mendapat kebaikan dari orang lain misalnya ucapan “jazakallah khair atau barakalahu fiikum”?

Berikut fatwa Ulama yang berkaitan dengan ucapan tersebut:

Asy Syaikh Muhammad ‘Umar Baazmool, pengajar di Universitas Ummul Quraa Mekah, ditanya: Beberapa orang sering mengatakan “Amiin, waiyyaak” (yang artinya “Amiin, dan kepadamu juga”) setelah seseorang mengucapkan “Jazakallahu khairan” (yang berarti “semoga ALLAH membalas kebaikanmu”). Apakah merupakan suatu keharusan untuk membalas dengan perkataan ini setiap saat?

Beliau menjawab:
Ada banyak riwayat dari sahabat dan dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, dan ada riwayat yang menjelaskan tindakan ulama. Dalam riwayat mereka yang mengatakan “Jazakalahu khairan,” tidak ada yang menyebutkan bahwa mereka secara khusus membalas dengan perkataan “wa iyyaakum.”

Karena ini, mereka yang berpegang pada perkataan “wa iyyaakum,” setelah doa apapun, dan tidak berkata “Jazakallahu khairan,” mereka telah jatuh ke dalam suatu yang baru yang telah ditambahkan (untuk agama).

Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta’ala ditanya: apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga)?

Beliau menjawab:
“tidak ada dalilnya, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu khair” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu dido’akan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian” ,namun jika dia mengatakan “jazakalallahu khair” dan menyebut do’a tersebut secara nash, tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”

Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi ditanya: Apa hukumnya mengucapkan, “Syukran (terimakasih)” bagi seseorang yang telah berbuat baik kepada kita?

Beliau menjawab:
Yang melakukan hal tersebut sudah meninggalkan perkara yang lebih utama, yaitu mengatakan, “Jazaakallahu khairan (semoga ALLAH membalas kebaikanmu.” Dan pada Allah-lah terdapat kemenangan.

Menjawab dengan “Wafiika barakallah”.
Apabila ada seseorang yang telah mengucapkan do’a “Barakallahu fiikum atau Barakallahu fiika” kepada kita, maka kita menjawabnya: “Wafiika barakallah” (Semoga Allah juga melimpahkan berkah kepadamu) (lihat Ibnu Sunni hal. 138, no. 278, lihat Al-Waabilush Shayyib Ibnil Qayyim, hal. 304. Tahqiq Muhammad Uyun)

Menjawab dengan “jazakallahu khair”.
Ada satu hadits yang menjelaskan sunnahnya mengucapkan “jazakallahu khairan”, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan : jazaakallahu khair (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” (HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi)

Ada beberapa ketentuan dalam mengucapkan jazakallah:
- jazakallahu khairan (engkau, lelaki)
- jazakillahu khairan (engkau, perempuan)
- jazakumullahu khairan (kamu sekalian)
- jazahumullahu khairan (mereka)

Fatwa ulama seputar ucapan “jazakallah”:

Al-Allamah Asy Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah ditanya:
sebagian ikhwan ada yang menambah pada ucapannya dengan mengatakan “jazakallah khaeran wa zawwajaka bikran” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan menikahkanmu dengan seorang perawan), dan yang semisalnya. Bukankah tambahan ini merupakan penambahan dari sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam, dimana beliau mengatakan “sungguh dia telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.?

Beliau menjawab:
Tidak perlu (penambahan) doa seperti ini, sebab boleh jadi (orang yang didoakan) tidak menginginkan do’a yang disebut ini. Boleh jadi orang yang dido’akan dengan do’a ini tidak menghendakinya. Seseorang mendoakan kebaikan, dan setiap kebaikan sudah mencakup dalam keumuman doa ini. Namun jika seseorang menyebutkan do’a ini, bukan berarti bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk menambah dari do’a tersebut. Namun beliau hanya mengabarkan bahwa ucapan ini telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. Namun seandainya jia dia mendoakan dan berkata: “jazakallahu khaer wabarakallahu fiik wa ‘awwadhaka khaeran” (semoga Allah membalas kebaikanmu dan senantiasa memberkahimu dan menggantimu dengan kebaikan pula” maka hal ini tidak mengapa. Sebab Rasul Shallallahu alaihi wasallam tidak melarang adanya tambahan do’a. Namun tambahan do’a yang mungkin saja tidak pada tempatnya, boleh jadi yang dido’akan dengan do’a tersebut tidak menghendaki apa yang disebut dalam do’a itu.

Al-Allamah Asy Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah ditanya:
Ada sebagian orang berkata: ada sebagian pula yang menambah tatkala berdo’a dengan mengatakan : jazaakallahu alfa khaer” (semoga Allah membalasmu dengan seribu kebaikan” ?

Beliau -hafidzahullah- menjawab:
“Demi Allah, kebaikan itu tidak ada batasnya, sedangkan kata seribu itu terbatas, sementara kebaikan tidak ada batasnya. Ini seperti ungkapan sebagian orang “beribu-ribu terima kasih”, seperti ungkapan mereka ini. Namun ungkapan yang disebutkan dalam hadits ini bersifat umum.” (transkrip dari kaset: durus syarah sunan At-Tirmidzi,oleh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah, kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, nomor hadits: 222)

Kesimpulan:
Ucapan “Waiyyak” secara harfiah artinya “dan kepadamu juga”. Ini adalah bentuk do’a `yang walaupun ulama kita tidak menemukan itu sebagai sunnah. Dalam kasus manapun, namun tidak ada ulama yang melarang berdo’a dengan selain ucapan “Jazakumullah khairan” dengan syarat tidak boleh menganggapnya merupakan bagian dari sunnah. Namun untuk lebih afdholnya kita ucapkan “jazakallah khair”, inilah sunnahnya.

Ada satu kaidah ushul fiqih yang dengan ini mudah-mudahan kita bisa terhindar dari bid’ah dan kesalahan-kesalahan dalam beramal atau beribadah.

Al-Imam Al-Bukhari (dalam kitab Al-Ilmu) beliau berkata, “Ilmu itu sebelum berkata dan beramal”. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta’ala “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19).

Dari ayat yang mulia ini, Allah ta’ala memulai dengan ilmu sebelum seseorang mengucapkan syahadat, padahal syahadat adalah perkara pertama yang dilakukan seorang muslim ketika ia ingin menjadi seorang muslim, akan tetapi Allah mendahului syahadat tersebut dengan ilmu, hendaknya kita berilmu dahulu sebelum mengucapkan syahadat, kalau pada kalimat syahadat saja Allah berfirman seperti ini maka bagaimana dengan amalan lainnya? Tentunya lebih pantas lagi kita berilmu baru kemudian mengamalkannya. Kita tidak boleh asal ikut-ikutan orang lain tanpa dasar ilmu, seseorang sebelum berbuat sesuatu harus mengetahui dengan benar dalil-dalilnya.


Semoga bermanfaat, Wallahu ta’ala a’lam bissowab.

sumber: http://www.facebook.com/pages/-Mutiaraku-Motivasiku

aku HARUS bisa


Bismilaah..
Setelah semalam aku bergulat mengotak atik blog ini, akhirnya aku berhasil juga mendesignnya, meskipun belum sempurna seperti yang aku inginkan, tapi setidaknya aku sudah sedikit tahu dari pada tidak tahu apa-apa..
Berawa dari ketidak berdayaan dan rasa putus asa akan gagalnya aku mendesign blogku sendiri, aku kembali membaca dan membaca tutorial mendesign web yang ku dapat dari om google. Pelan-pelan aku kunyah kata demi kata, lalu aku telan sedikit demi sedikit, dan ku cerna segala yang telah masuk dalam processor otakku. Namun nahas, sepertinya aku memang tidak berbakat...
Ralat, bukan tidak berbakat, tapi lekas putus asa. Hehehe, bagaimana tidak? Setelah ku coba-coba tapi hasilnya pun jadi amburadul. Dan dengan memberanikan diri aku bekata “AKU PASTI BISA, MENGEDIT DAN MENDESIGN BLOG INI, HARUS BISA!” yaah, meskipun aku tahu, akan sulit bila aku tidak benar-benar mendapat tutor yang menuntunku  secara nyata dan”hidup” hehehe.
Wal hasil setelah ku berkelana di dunia maya, kutemukan sebuah blog yang namanya tak asing bagi diriku. Apa itu? Ternyata itu adalah blog tetanggaku yang tak lain adalah saudara jauh dari ayah. Tiba-tiba otakku menyala seperti lampu panggun seribu watt (ghuluw). Tanpa pikir panjang ku mengambil tas notebook ku, ku kantongi stick modemku, lalu ku pamit pada ayah ingin main kerumah saudara jauhku itu.
Sesampainya disana, aku mengusik saudaraku yang sedang asik menonton pertandingan sepak bola Arsenal Vs Chelsea. Seperti telah tahu maksud kedatanganku, saudaraku langsung datang dan bertanya “ada apa mbak?”, akupun menjawab tanpa basa-basi “ajarin mba ngedesign blog dong”. Dan tanpa pikir panjang ia pun segera beranjak dan mengajakku keruang komputer. Cukup memakan watu lama, hampir enam puluh menit aku melihat saudaraku mendesign blog milikku. Aku diam saja, mau bagaimana lagi? Aku minta diajari, tapi dia terlalu cepat berpindah dari tab yang satu ke tab yang lain. Ya sudah lah, enak juga kok Cuma lihatin orang bekerja dan terima hsilnya, hehhe.
Dan akhirnya jadilah design blog yang baru, dengan hasil menu header dan beberapa category yang ku buat untuk mengelompokkan hasil tulisan-tulisanku. Dann.... semangat menulis kawan!

Kamis, 27 September 2012

Aku Adalah Aku

Bismillaah..

Sudah lama aku tidak menengok blog ini, ternyata kau masih terus hidup ya, meski tampak usang dan dipenuhi sarang laba-laba di pojokkan layar... hehehe

Senja yang menyendirikan aku
Hemm.. sebelum ku tulis ini, aku membaca kembali tulisan-tulisan sebelum ini. Aku membaca hal yang seharusnya tak aku tulis.. Namun, entahlah mengapa aku enggan menghapusnya.. Aku pikir, menghapus hasil tulisan yang lebih banyak cerita hati ini sama saja menghapus jejak yang telah lalu, dan itu sama dengan menghapus sejarah hidupku. Aaah tidak lah, aku menyukai sejarah, aku selalu menyukai masalalu untuk aku pelajari dihari ini, esok dan seterusnya..

Aku, sempat terfikir untuk menghapus jejak diri, namun untuk apa? Untuk menghapus siapa diriku sebenarnya? Bukan solusi setelah ku pikir. Aku sudah mengalami gejolak dan pertentangan bathin yang luar binasa, dan membinasakan kepribadianku sendiri. Bagaimana tidak, kehidupanku yang tadinya penuh dengan warna dan cerita bahagia hilang satu persatu, sirna lembar demi lembar, dan kelam menyapa hari demi hari.

Tidak! aku tidak ingin itu terjadi, tapi mau bagaimana lagi? Warna dan Keceriaan itu memang hanya sandiwaraku saja. Peran yang aku mainkan agar aku memiliki banyak teman dan sahabat, yang nyatanya tidak ada yang benar-benar tulus berteman denganku. Sudahlah,,, memang aku seharusnya tak menjadi orang lain hanya untuk mendapat simpati teman-teman... Aku adalah aku, dan bila memang mereka peduli padaku, tak perlu ku merubah pribadiku menjadi periang dan si banyak bicara. Cukup ku tunjukkan prestasiku, ku tunjukkan siapa diriku sebenarnya toh mereka akan mendekat dengan sendirinya.

Namun menjadi diri sendiri itu naif sekali menurutku, pribadiku adalah hasil penyerapan berbagai pribadi orang-orang yang aku lihat, aku dengar dan aku baca. Sedikit yang ku ketahui, meskipun seseorang menyerap kepribadian orang lain, sesungguhnya ia masih memiliki pribadinya yang sesungguhnya. Tinggal bagaimana dia menemukan pribadinya yang sebenranya dan mengembangkan menjadi pribadi yang baik.

Sekali lagi kukatakan bahwa Aku adalah aku, aku tidak akan kembali menjadi orang lain, aku akan berusaha menjadi diri sendiri dan tidak akan mengapus jejak-jejakku dimasa silam. Yaa semoga saja, Wallahua'lam.

Selasa, 19 Juli 2011

rintihan isi hatiku.. semoga kamu memahami..

“Sebaik-baik wanita ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang oleh lelaki”

Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang. Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati.

Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan. Bagaimana akan kujawab di hadapan Allah kelak andai ditanya? Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi? Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku. Aku harus memperbaiki dan menghias pribadiku karena itulah yang dituntut oleh Allah. Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku juga perlu menjadi perempuan yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu untuk lelaki yang baik?


Tidak kunafikan sebagai remaja, aku memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu karena ia semata-mata untukmu. Allah telah memuliakan seorang lelaki yang bakal menjadi suamiku untuk menerima hati dan perasaanku yang suci. Bukan hati yang menjadi labuhan lelaki lain. Engkau berhak mendapat kasih yang tulen.

Diriku yang memang lemah ini telah diuji oleh Allah saat seorang lelaki ingin berkenalan denganku. Aku dengan tegas menolak, berbagai macam dalil aku kemukakan, tetapi dia tetap tidak berputus asa. Aku merasa seolah-olah kehidupanku yang tenang ini telah dirampas dariku. Aku bertanya-tanya adakah aku berada di tebing kebinasaan? Aku beristigfar memohon ampunan-Nya. Aku juga berdoa agar Pemilik Segala Rasa Cinta melindungi diriku dari kejahatan.

Kehadirannya membuatku banyak memikirkan tentang dirimu. Kau kurasakan seolah-olah wujud bersamaku. Di mana saja aku berada, akal sadarku membuat perhitungan denganmu. Aku tahu lelaki yang menggodaku itu bukan dirimu. Malah aku yakin pada gerak hatiku yang mengatakan lelaki itu bukan teman hidupku kelak.


Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana.Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita solehah yang lain, dilamar lelaki yang bakal dinobatkan sebagai ahli syurga, memimpinku ke arah tujuan yang satu.Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi Wassalam, yang mampu mendebarkan hati juataan gadis untuk membuat aku terpikat.

Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dimubazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.


Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari ridha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu. Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu. Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku.Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku.

Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga. Seorang gadis yang membiarkan dirinya dikerumuni, didekati, diakrabi oleh lelaki yang bukan muhrimnya. Cukuplah dengan itu hilang harga dirinya di hadapan Allah. Di hadapan Allah. Di hadapan Allah.

jadi..
“PELIHARALAH DIRI DAN JAGA KESUCIAN”