Assalamu'alaykum Warahmatullaah Wabaraakatuh…
Bismillahirrohmanirrohim…
Teringat Beberapa waktu yang lalu pernah ditegur sahabat kecil ku,
Setelah memperoleh jawaban tentang pertanyaan – pertanyaannya, dia pun
mengucapkan “Jazakillah Khai
r mba…”
kemudian Aku membalasnya hanya dengan mengucapkan “amin” dan dia
bertanya seakan akan tidak puas dengan jawaban ku ” kenapa mba gak
doakan aku juga?, kenapa gk jawab “waiyyaki” ?” waktu itu aku cuma
tersenyum dan menjawab, “sama aza kan???…” tp dalam hati ku berkata
“Insya Allah mba ingin membagi masalah ini dengan mu..” *senyum*
Banyak orang yang sering mengucapkan “waiyyak (dan kepadamu juga)” atau
“waiyyakum (dan kepada kalian juga)” ketika telah dido’akan atau
mendapat kebaikan dari seseorang. Apakah ada sunnahnya mengucapkan
seperti ini? Lalu bagaimanakah ucapan yang sebenarnya ketika seseorang
telah mendapat kebaikan dari orang lain misalnya ucapan “jazakallah
khair atau barakalahu fiikum”?
Berikut fatwa Ulama yang berkaitan dengan ucapan tersebut:
Asy Syaikh Muhammad ‘Umar Baazmool, pengajar di Universitas Ummul Quraa
Mekah, ditanya: Beberapa orang sering mengatakan “Amiin, waiyyaak”
(yang artinya “Amiin, dan kepadamu juga”) setelah seseorang mengucapkan
“Jazakallahu khairan” (yang berarti “semoga ALLAH membalas kebaikanmu”).
Apakah merupakan suatu keharusan untuk membalas dengan perkataan ini
setiap saat?
Beliau menjawab:
Ada banyak riwayat dari
sahabat dan dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, dan ada riwayat
yang menjelaskan tindakan ulama. Dalam riwayat mereka yang mengatakan
“Jazakalahu khairan,” tidak ada yang menyebutkan bahwa mereka secara
khusus membalas dengan perkataan “wa iyyaakum.”
Karena ini,
mereka yang berpegang pada perkataan “wa iyyaakum,” setelah doa apapun,
dan tidak berkata “Jazakallahu khairan,” mereka telah jatuh ke dalam
suatu yang baru yang telah ditambahkan (untuk agama).
Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah
Ta’ala ditanya: apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan
mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga)?
Beliau menjawab:
“tidak ada dalilnya, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu
khair” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu dido’akan
sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai
athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna
“sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian” ,namun jika dia
mengatakan “jazakalallahu khair” dan menyebut do’a tersebut secara nash,
tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”
Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi ditanya: Apa hukumnya mengucapkan,
“Syukran (terimakasih)” bagi seseorang yang telah berbuat baik kepada
kita?
Beliau menjawab:
Yang melakukan hal tersebut sudah
meninggalkan perkara yang lebih utama, yaitu mengatakan, “Jazaakallahu
khairan (semoga ALLAH membalas kebaikanmu.” Dan pada Allah-lah terdapat
kemenangan.
Menjawab dengan “Wafiika barakallah”.
Apabila
ada seseorang yang telah mengucapkan do’a “Barakallahu fiikum atau
Barakallahu fiika” kepada kita, maka kita menjawabnya: “Wafiika
barakallah” (Semoga Allah juga melimpahkan berkah kepadamu) (lihat Ibnu
Sunni hal. 138, no. 278, lihat Al-Waabilush Shayyib Ibnil Qayyim, hal.
304. Tahqiq Muhammad Uyun)
Menjawab dengan “jazakallahu khair”.
Ada satu hadits yang menjelaskan sunnahnya mengucapkan “jazakallahu
khairan”, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang
diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan
mengatakan : jazaakallahu khair (semoga Allah membalasmu dengan
kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa
syukurnya.” (HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53),
Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar
dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih
Tirmidzi)
Ada beberapa ketentuan dalam mengucapkan jazakallah:
- jazakallahu khairan (engkau, lelaki)
- jazakillahu khairan (engkau, perempuan)
- jazakumullahu khairan (kamu sekalian)
- jazahumullahu khairan (mereka)
Fatwa ulama seputar ucapan “jazakallah”:
Al-Allamah Asy Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah ditanya:
sebagian ikhwan ada yang menambah pada ucapannya dengan mengatakan
“jazakallah khaeran wa zawwajaka bikran” (semoga Allah membalasmu dengan
kebaikan dan menikahkanmu dengan seorang perawan), dan yang semisalnya.
Bukankah tambahan ini merupakan penambahan dari sabda Rasul shallallahu
alaihi wasallam, dimana beliau mengatakan “sungguh dia telah mencukupi
dalam menyatakan rasa syukurnya.?
Beliau menjawab:
Tidak
perlu (penambahan) doa seperti ini, sebab boleh jadi (orang yang
didoakan) tidak menginginkan do’a yang disebut ini. Boleh jadi orang
yang dido’akan dengan do’a ini tidak menghendakinya. Seseorang mendoakan
kebaikan, dan setiap kebaikan sudah mencakup dalam keumuman doa ini.
Namun jika seseorang menyebutkan do’a ini, bukan berarti bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk menambah dari
do’a tersebut. Namun beliau hanya mengabarkan bahwa ucapan ini telah
mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. Namun seandainya jia dia
mendoakan dan berkata: “jazakallahu khaer wabarakallahu fiik wa
‘awwadhaka khaeran” (semoga Allah membalas kebaikanmu dan senantiasa
memberkahimu dan menggantimu dengan kebaikan pula” maka hal ini tidak
mengapa. Sebab Rasul Shallallahu alaihi wasallam tidak melarang adanya
tambahan do’a. Namun tambahan do’a yang mungkin saja tidak pada
tempatnya, boleh jadi yang dido’akan dengan do’a tersebut tidak
menghendaki apa yang disebut dalam do’a itu.
Al-Allamah Asy Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah ditanya:
Ada sebagian orang berkata: ada sebagian pula yang menambah tatkala
berdo’a dengan mengatakan : jazaakallahu alfa khaer” (semoga Allah
membalasmu dengan seribu kebaikan” ?
Beliau -hafidzahullah- menjawab:
“Demi Allah, kebaikan itu tidak ada batasnya, sedangkan kata seribu itu
terbatas, sementara kebaikan tidak ada batasnya. Ini seperti ungkapan
sebagian orang “beribu-ribu terima kasih”, seperti ungkapan mereka ini.
Namun ungkapan yang disebutkan dalam hadits ini bersifat umum.”
(transkrip dari kaset: durus syarah sunan At-Tirmidzi,oleh Al-Allamah
Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah, kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, nomor
hadits: 222)
Kesimpulan:
Ucapan “Waiyyak” secara harfiah
artinya “dan kepadamu juga”. Ini adalah bentuk do’a `yang walaupun ulama
kita tidak menemukan itu sebagai sunnah. Dalam kasus manapun, namun
tidak ada ulama yang melarang berdo’a dengan selain ucapan “Jazakumullah
khairan” dengan syarat tidak boleh menganggapnya merupakan bagian dari
sunnah. Namun untuk lebih afdholnya kita ucapkan “jazakallah khair”,
inilah sunnahnya.
Ada satu kaidah ushul fiqih yang dengan ini
mudah-mudahan kita bisa terhindar dari bid’ah dan kesalahan-kesalahan
dalam beramal atau beribadah.
Al-Imam Al-Bukhari (dalam kitab
Al-Ilmu) beliau berkata, “Ilmu itu sebelum berkata dan beramal”.
Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah
ta’ala “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang
berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS.
Muhammad: 19).
Dari ayat yang mulia ini, Allah ta’ala memulai
dengan ilmu sebelum seseorang mengucapkan syahadat, padahal syahadat
adalah perkara pertama yang dilakukan seorang muslim ketika ia ingin
menjadi seorang muslim, akan tetapi Allah mendahului syahadat tersebut
dengan ilmu, hendaknya kita berilmu dahulu sebelum mengucapkan syahadat,
kalau pada kalimat syahadat saja Allah berfirman seperti ini maka
bagaimana dengan amalan lainnya? Tentunya lebih pantas lagi kita berilmu
baru kemudian mengamalkannya. Kita tidak boleh asal ikut-ikutan orang
lain tanpa dasar ilmu, seseorang sebelum berbuat sesuatu harus
mengetahui dengan benar dalil-dalilnya.
Semoga bermanfaat, Wallahu ta’ala a’lam bissowab.
sumber: http://www.facebook.com/pages/-Mutiaraku-Motivasiku